

Sejak dulu kehidupan selalu menawarkan berbagai sisi yang harus kita pilih. Sisi depan dan belakang, sisi samping, bawah maupun atas. Juga dalam konteks yang lebih beragam, tentu saja pilihannya akan semakin kompleks. Termasuk tawaran halal dan haram, mafaat dan mudharat dsb. Yang pasti kita selalu meminta kepada Allah untuk ditunujkkan dengan sangat jelas man yang salah dan mana yang benar. Mengapa demikian, karena yang kita dapati sering kali yang samar, yang belum jelas kebenarannya dan kesalahannya. Tentu saja hal ini juga berlaku dalam desain. Khususnya Desain grafis, atau yang kini populer Desain Komunikasi Visual. Berbagai komponen dan variabel desain komunikasi rentan dengan hal-hal yang subhat atau meragukan dari sisi kehalalannya. Mulai dari produk, apakah produk halal ataupun produk haram? Tinjauannya sederhana, Allah menghalalkan semua yang baik/toyib dan mengharmkan semua yang buruk. Dari sini berbagai tinjauan bergulir. Muncullah fiqih kontemporer yang menimbang konten tersebut. Barangkali hal itu akan semakin semprawut di kala nafsu dan kepentingan kita berperan, sedang nurani dan ilmu dinomor duakan. Cara juga banyak sekali menyinggung garis permasalahan yang meragukan ini, terkadang untuk tujuan keuntungan apapun caranya ditempuh, sehingga lahirlah iklan yang tampil hanya sebagai corong kebohongan publik, diskon yang ditutupi, dan kreatifitas yang menjadi pemoles kebusukan pesan. entu saja masih banyak tools untuk mengukur kejujuran kitaberkomunikasi visual.
Di sisi lain sahabat kita yang sudah mahfum dengan permasalahan kehalalah dan keharaman ditijau dari produk dan cara penyampaian di atas, mereka tampil dengan seadanya. Komunikasinya nyaris tak punya strategi, eskipun sangat sederhana. Bahasa yang dipakai begitu flat dan dipaksakan memuat semua pesan dari pemilik produk hingga kurirnya. Alhasil hanya iklan yang dijubeli dengan ratusan kata-kata dengan komposisi yang alakadarnya. Belum lagi seluruh varian produk yang juga tidak boleh ketinggalan bahkan produk yang tidak diunggulkan sekalipun. Lagi-lagi pembaca disuguhi halaman majalah yang ribet seperti pasar tradisional yang becek dan riuh.
Kalaulah para pelaku kreatif desain mengaplikasikan amaliahnya dan turun ke ranah produksi desain akar rumput, tentulah sedikit demi sedikit hasil karya komunkasi promosi kita isya Allah akan lebih baik, ditinjau dari desainnya dan syariahannya.
Wallahua'lam.